Berkata Baik...Atau Diam...
Sungguh beda dengan jaman dulu yang masih menjunjung tinggi adab dan kesopanan dalam bermasyarakat. Sekarang seolah adab dan kesopanan hanya menjadi benda museum yang bahkan tak pernah ditengok lagi, apalagi diapresiasi. Orang sekarang lebih suka berbicara daripada mendengar. Padahal dalam komunikasi dibutuhkan pihak yang berbicara dan pihak yang mendengarkan. Jika tidak ada yang mau mendengarkan, berarti tidak terjalin komunikasi.
Kemajuan teknologi saat ini yang seharusnya bisa dijadikan sebagai sarana komunikasi yang lebih mudah, malahan telah berubah menjadi Weapon of Mass Destruction (WMD). Anjungan media sosial yang bertaburan telah berubah menjadi killing fields (ladang pembantaian) yang dijadikan sebagai sarana untuk menjatuhkan kredibilitas dan nama baik orang lain yang tidak disukai atau tidak sependapat.
Youtube, Twitter, Facebook, Instagram, TikTok dan kawan-kawannya telah bergeser dari tujuan penciptaannya. Muntahan cacian dan makian di kolom komentar seolah menjadi hal yang lumrah saja. Dengan dalih kebebasan berpendapat yang menjadi bagian dari hak asasi manusia, orang bisa saja menjatuhkan kehormatan dan harga diri orang lain. Rupanya mereka tidak sadar (atau tidak tahu?) bahwa kehormatan dan harga diri juga adalah merupakan hak asasi manusia. Manusia telah diciptakan oleh Allah ’Azza wa Jalla dengan kehormatan dan harga diri, karena dua hal itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan itu diumumkan sendiri oleh Allah 'Azza wa Jalla dalam Al Qur‘an. Karena itulah Allah sangat membenci perbuatan ghibah (bergunjing), namimah (adu domba), fitnah dan berkata kasar, dan hal itu bahkan termasuk perbuatan dosa.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bahkan telah berpesan “Berkatalah yang baik, atau diam”. Bahkan ada pepatah di bahasa kita “Diam adalah Emas”. Orang yang banyak bicara omong kosong juga dijuluki sebagai "tong kosong nyaring bunyinya". Hal ini menunjukkan bahwa secara umum banyak omong belum tentu merupakan sebuah kebaikan. Juga pepatah yang berbunyi “mulutmu harimaumu”. Perkataan kita suatu saat akan memangsa diri kita sendiri jika tidak dipelihara dengan baik.
Ingatlah bahwa di akhirat nanti lidah dan tangan (termasuk jemarimu) akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah ’Azza wa Jalla. Jadi berhati-hatilah dalam berkata-kata dan menulis komentar. Semoga kita semua (terutama diri saya sendiri) bisa lebih mawas diri lagi dan bijak dalam bertutur dan bersikap.
Salam....
Comments
Post a Comment